Asal Alat Musik Kolintang dan Cara Memainkannya

Asal Alat Musik Kolintang – Sebagai salah satu alat musik tradisional, kolintang memang cukup terkenal di Indonesia. Alat musik ini dibuat dari kayu khusus yang disusun serta dimainkan dengan cara dipukul. Sekilas desain kolintang ini mirip dengan alat musik gambang yang berasal dari Jawa.

Hanya saja, nada yang dihasilkan kedua alat musik ini berbeda. Dimana nada yang dihasilkan oleh kolintang lebih lengkap. Selain nada, perbedaannya juga terletak pada cara memainkannya.

Perlu diketahui, alat musik kolintang ini sering digunakan untuk mengiringi upacara adat, pengiring nyanyian, pertunjukan tari, dan bahkan pertunjukan musik. Meski cukup populer, nyatanya tak sedikit orang yang belum mengetahui asal alat musik kolintang.

Asal Alat Musik Kolintang

Asal Alat Musik Kolintang

Alat musik tradisional kolintang atau kulintang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Kata kolintang itu sendiri sebenarnya berasal dari suara bunyi yang dihasilkannya, yakni ting pada nada tinggi, tang saat mengeluarkan nada tengah, serta tong pada saat nada rendah.

Masyarakat setempat dulunya berkata “Maimo Kumolintang“ yang berarti Ayo kita ber TongTingTang ketika ingin memainkannya. Hal inilah yang membuat alat musik tersebut bernama kolintang.

Kini alat musik tradisional kolintang terbagi menjadi beberapa varian. Perbedaan ini terlihat dari suara yang dihasilkannya. Adapun jenis alat musik kolintang terdiri dari beberapa varian, yakni loway (bass), karua rua (tenor 2), uner (alto 1), uner rua (alto 2), cella (cello), karua (tenor 1), katelu (ukulele), ina esa (melodi 1), ina rua (melodi 2), dan ina taweng (melodi 3).

Cara Memainkan Kolintang

Disamping asal alat musik kolintang, kami juga akan ulas mengenai cara memainkannya. Adapun cara memainkan alat musik kolintang ialah dengan dipukul menggunakan stik khusus. Supaya suara yang dihasilkan terdengar lebih bagus, maka di ujung stik umumnya diberi bantalan kain.

Hal ini seperti halnya alat pukul musik gamelan. Stik yang dipakai tersebut biasanya terdiri dari tiga stick yang dilengkapi dengan nomor tersendiri.

Pada umumnya, stik nomer satu dipakai di tangan kiri. Sementara nomer dua dan tiga dipegang dengan tangan kanan. Berbeda dengan stik dua dan tiga sesuai dengan akor yang dimainkan umumnya dipasang di sela-sela jari.

Cara memukul kolintang pun disesuaikan dengan ketukan serta irama yang diinginkan. Perlu dipahami, setiap alat musik mempunyai ciri tertentu sesuai dengan fungsi dalam mengiringi suatu lagu.

Pada alat bass dan melody biasanya hanya menggunakan 2 stick. Dengan begitu, lebih mudah dan nyaman pada tangan.

Perkembangan Kolintang

Alat musik tradisional kolintang mulai berkembang usai Perang Dunia II. Dengan dipelopori oleh Nelwan Katuuk (penyusun nada kolintang yang menurut susunan nada musik universal), kolintang ini pun muncul kembali.

Awalnya, kolintang hanya meliputi satu melody saja dengan susunan nada diatonis, dimana memiliki jarak nada 2 oktaf. Sementara sebagai pengiring digunakan alat-alat string seperti halnya gitar, ukulele, dan stringbas.

Asal alat musik kolintang, Minahasa, memang sangat lekat dengan alat musik ini. Pada tahun 1954, kolintang telah dibuat 2 ½ oktaf (masih diatonis). Namun pada tahun 1960 telah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, serta 1 mol.

Dasar nada masih terbatas di tiga kunci (naturel, 1 mol, 1 kruis) yang memiliki jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Alat musik kolintang tetap bisa berkembang secara baik, mulai dari bentuk peti resonator, perluasan jarak nada, kualitas alat, hingga penampilan. Pembuatan kolintang saat ini pun telah mencapai enam oktaf yang memiliki chromatisch penuh.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *