Mengetahui Kisah Dewa Siwa dan Ragam Wujud Yang Dimiliki

Kisah Dewa Siwa – Secara harfiah Siwa diartikan sebagai keberuntungan, dan juga kesejahteraan.  Siwa merupakan dewa ketiga dari Triad Hindu dan dia dipercaya sebagai dewa kehancuran.

Siwa juga mewakili kegelapan, bahkan disebut sebagai “dewa yang marah”. Dewa Siwa kerap menghancurkan kehadiran negatif, antara lain seperti kejahatan, ketidaktahuan, dan juga kematian.

Di dalam kepercayaan agama Hindu, Siwa juga merupakan salah satu dari tiga dewa utama atau yang sering disebut dengan istilah Tri Murti. Tri murti itu terdiri dari Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Dewa Siwa , Dewa Brahma , Dewa Wisnu merupakan bagian dari maha pencipta yang memiliki tugas masing-masing dan berbeda-beda.

Dewa siwa merupakan dewa pelebur yang  memiliki tugas untuk melebur  berbagai macam yang sudah tidak layak berada di dunia ini. Siwa juga dijuluki sebagai Bhatara Guru. Siwa juga merupakan suami dari Parwati , Kali , Durgha , Sati/Daksayani , dan juga Uma.

Penggambaran Dewa Siwa Sebagai Dewa Pelebur

dewa siwa

Digambarkan sebagai dewa pelebur, maka Siwa digambarkan dengan :

  • Berkulit gelap: Siwa memiliki kulit yang berwarna gelap seperti warna kulit Dewa Wishnu
  • Mengenakan pakaian serta ikat pinggang yang asalnya dari kulit harimau : katanya, seekor harimau tersebut telah diperintahkan iblis untuk membunuh Dewa Siwa. Akan tetapi, Siwa mengalahkan harimau tersebut, kemudian mengambil kulitnya untuk dijadikan pakaian dan ikat pinggang. Pakaian serta ikat pinggang yang asalnya dari kulit harimau ini digambarkan sebagai penahan hawa nafsunya.
  • Berhiaskan bulan sabit : Bhatara Guru memiliki hiasan berupa bulan sabit atau Ardha Chandra
  • Memiliki sebanyak 4 tangan, masing-masing membawa trisula, cemara, tasbih/genitri, kendi
  • Bermata tiga atau disebut Tri Netra , katanya itu diperoleh dari semedi ribuan tahun
  • Terdapat hiasan ular kobra: Ular kobra tersebut digambarkan sebagai kebesaran , keberanian dan juga digambarkan sebagai lambang Lingga pada zaman dahulu
  • Kendaraan berupa Lembu Nandi : Lembu Nandi merupakan seorang lembu yang dijadikan sebagai wahana oleh Dewa Siwa

Tempat tinggalnya yaitu Kailas dan permaisuri Parvathi. Ganesha serta Kartikeya merupakan anak-anaknya yang ilahi, yang mana mereka juga menempati tempat yang penting di panteon Hindu. Saivism merupakam sekte Hinduisme yang paling populer, selain Vaishnavism.

Sedangkan, Shaivisme merupakan suatu tradisi massa. Dan ini menolak hak istimewa kasta yang hadir dengan kelahiran serta hak eksklusif Brahmana yang ada padatradisi ritual Hindu.

Kitab Maha Dewa Mahabrata

dewa siwa

Pada kitab Mahābhārata, Siwa juga kerap disebut sebagai Mahādewa. Yang mana merupakan dewa tertinggi di antara para dewa yang lainnya. Kitab tersebut juga menjelaskan asal mula Siwa bisa memperoleh sebutanyang seperti itu.

Suatu saat, para dewa menyuruh Siwa untuk memusnahkan makhluk-makhluk jahat yang menghuni di Tripura. Di dalam menghadapi makhluk-makhluk tersebut, Siwa diberi setengah kekuatan dari masing-masing dewa tersebut. Kemudian sesudah bisa memusnahkan makhluk-makhluk tersebut, maka Siwa dinilai sebagai dewa yang tertinggi.

Dalam Yajur-Weda putih, pertama kalinya Çiwa atau Rudra disebut Mahadewa. Dalam Mahābhārata bagian Bhismaparwa, Siwa juga digambarkan ada di Gunung Meru, yang dikelilingi Umā dan juga para pengikutnya itu yang dinamakan dengan Pasupati (sloka 219b).

Sedangkan untuk sebutan Maheswara terdapat pada kitab Mahabharata sloka 222a. Julukan yang lain untuk Çiwa yaitu Trinetra, yang mana diartikan bermata tiga.

Julukan ini diperoleh Çiwa pada waktu dari keningnya muncul mata ketiga untuk mengembalikan keadaan dunia bisa krembali pada keadaan yag semula, yang terganggu sebab, pada kedua matanya tertutup oleh kedua tangan Parwati.

Yang pada saat itu mereka sedang asyik bercengkerama dengan Çiwa. Guna mengembalikan keadaan dunia, Çiwa menciptakan mata ketiga yang ada di bagian keningnya.

Siwa Trinetra

dewa siwa

Dalam kitab Mahābhārata juga dijelaskan mengenai uraian tentang Siwa Trinetra. Kitab Linga-Purana  juga menerangkan tentang mata ketiga Siwa. Sati, anak Daksa istri pertama Siwa melakukan bunuh diri dengan cara terjun ke dalam api sebab ayahnya.

Daksa tidak menghiraukan Ciwa, sebagai suaminya. Sebab kejadian tersebut, Siwa pada akhirnya pergi bertapa di atas Gunung Himalaya. Parvati, yang merupakan anak Himawan yang jatuh cinta kepada Siwa sebenarnya merupakan Sati “yang lahir kembali”.

Sedangkan, untuk makhluk jahat asura Tataka pada akhirnya mulai mengganggu para dewa. Jika berdasarkan ramalan, yang bisa memusnahkan makhluk jahat itu hanyalah anak Çiwa. Dengan diselimuti rasa bingung, para dewa pada akhirnya memutuskan untuk membangunkan Çiwa.

Mereka selanjutnya juga sepakat untuk meminta pertolongan Dewa Kāma. Dengan bernagai macam upayanya, para dewa kemudian berangkat dengan disertai Parwati ke tempat Çiwa bertapa. Sebab keampuhan panah Dewa Kāma, maka Çiwa akhirnya terbangun.

Çiwa merasa terusik dengan perbuatan Kama yang membuka mata ketiganya yang menyemburkan api. Api tersebut pada akhirnya membakar Kāma sampai dirinya menjadi abu. Dan dalam waktu yang bersamaan, sebab keampuhan dari panah Kāma, akhirnya Çiwa merasa jatuh cinta dengan Parwati.

Rati, yang merupakan istri dari Dewa Kāma yang mendengar kematian suaminya akhirnya menemui dan menghadap Çiwa.  Dirinya memohonuntuk menghidupkan kembali Kāma. Pada saat itu, Çiwa berjanji bahwa Kāma nantinya akan lahir kembali sebagai Pradhyumna, ungkapnya untuk menghibur Rati.

Kisahnya juga diakhiri dengan pernikahan Çiwa dengan Parwati, dan juga lahirnya Kumara /Kartikeya atau Subrahmanya yang bisa membunuh Tataka /Tarkasura.

Siwa Nilakantha

Çiwa juga mendapatkan sebutan Nilakantha, sebab dirinya memiliki leher yang berwarna biru. Diceritakan kerika sedang diadakan pengadukan lautan susu untuk memperoleh Amrta, saat itu turut keluar racun yang bisa memusnahkan para dewa.

Guna melakukan penyelamatan untuk para dewa, Çiwa pada akhirnya meminum racun itu. Parwati yang merasa khawatir suaminya akan musnah, maka dirinya segera menekan leher Çiwa, tujuannya supaya  racun sebut tetidak menjalar ke bawah.

Katena lehernya ditekan, pada akhirnya racun itu terhenti di tenggorokan dan akhirnya meninggalkan warna biru yang ada pada kulit lehernya. Dan sejak itulah Çiwa memperoleh sebutan yang baru, yaitu Nilakantha.

Asal Muasal Atribut Dewa Siwa

Siwa juga diyakini berbagai macam wujud atau bentuk. Penggambarannya yang paling umum yaitu dikenal sebagai pertapa yang memiliki kulit gelap dengan tenggorokan biru.

Pada umumnya, dikenal duduk bersila pada kulit harimau, rambut Siwa kusut serta terlihat melingkar di atas bagian kepalanya. Lalu juga dihiasi dengan ular dan bulan sabit. Gangga juga selalu digambarkan mengalir keluar dari bagian  jambulnya.

Siwa juga mempunyai empat lengan dan tiga mata. Ketiga mata tersebut berada di tengah keningnya, akan tetapi selalu tertutup dan hanya terbuka ketika akan memusnahkan pelaku kejahatan saja.

Sebuah karangan bunga tengkorak, manik-manik rudraksha, atau ular juga tergantung di bagian lehernya. Siwa juga menggunakan ular sebagai armlets serta menggunakannya untuk gelang.

Kitab Suprabhedagama juga menjelaskan alasan Siwa memakai pakaian kulit harimau, hiasan berupa ular, kijang,  parasu, dan juga menggunakan hiasan bulan sabit, dan tengkorak yang ada di bagian mahkotanya.

Suatu ketika, Siwa pergi ke hutan dengan menyamar menjadi seorang pengemis. Istri para pendeta yang tiba-tiba melihatnya jatuh cinta, dengan demikian, akhirnya para pendeta marah. Menggunakan kekuatan magisnya mereka akhirnya membuat seekor harimau yang diperintahkan untuk menyerang Siwa.

Atribut Pakaian Dewa Siwa

Namun harimau itu dibinasakan dan kulitnya digunakan Siwa sebagai pakaiannya. Mengetahui Siwa dapat mengalahkan harimauyang dibuatnya, mereka semakin marah kemudian mencoba membuat seekor ular. Ular tersebut juga bisa ditangkap Siwa dan bahkan dijadikan untuk perhiasan.

Sesudah kedua usaha itu gagal, akhirnya mereka menciptakan kijang dan parasu. Usaha yang ini, Çiwa juga dapat melumpuhkan serangan para pendeta itu. Dan ketika peristiwa tersebut, kijang dan parasu justru menjadi dua di antara laksana (atribut) Siwa.

Dia mengenakan kulit macan atau macan tutul yang ada di sekitar pinggangnya, dan bagian atas tubuhnya pada umumnya telanjang, namun diolesi dengan abu, seperti layaknya seorang pertapa.

Ketiga matanya tersebut diyakini sudah muncul pada saat Parvati (Parvati, dewi kekuasaan, yang merupakan pemuja kosmis Shiva), dalam suasana hati yang menyenangkan, yang menutupi matanya dengan menggunakan kedua tangannya.

Menurut Shiva Purana, Dewa Siwa juga diyakini memiliki lima wajah, yang berdasarkan dengan lima tugasnya. Antara lain yaitu panchakriya: penciptaan, pendirian, kehancuran, pelupaan, dan juga suatu anugerah. Kelima wajahnya juga dihubung-hubungkan dengan penciptaan suku kata suci “Om”.

Perhiasan Dewa Siwa

Kemudian, pada kitab Purana juga dijelaskan tentang hiasan  yang di gunakan oleh Deva Siwa.  Istri para rsi tersebut merasa terpikat kepada Siwa, yang sekali waktu tampil dengan memakai pakaian seperti halnya seorang peminta-minta.

Para rsi juga begitu merasa marah terhadap Siwa atas penampilannya itu dan ingin membunuhnya. Dari sebuah  lobang yang telah di gali, muncul seekor harimau.

Siwa membunuh harimau tersebut kemudian mengambil kulitnya. Seekor menjangan mengikuti harimau dan keluar dari lubang yang sama. Siwa akhirnya memegang binatang tersebut menggunakan tangan kirinya.

Kemudian keluar dari lubang itu tongkat besi panas berwarna merah. Siwa juga mengambil tongkat tersebut serta menjadikan senjatanya. Terakhir dari lubang muncul beberapa ular kobra dan Siwa kemudian mengambil ular dan memanfaatkannya sebagai hiasan.

Suatu ketika, raksasa yang bernama Gaya menyamar dalam wujud seekor gajah dan menangkap seorang pandita yang melarikan diri serta memohon perlindungan pada sebuah pura Siwa. Siwa juga muncul serta membunuh gajah tersebut.

Selanjutnya dia mengambil kulitnya  dan dipakai pada badannya. Suatu hari, Siwa memakai beberapa ekor ular untuk anting-antingnya, maka dari itu,  ia di kenal dengan nama Nagakundala.

Siwa dilambangkan oleh ular yang dipakai di sekitar lehernya. Ular yang terikat pada bagian lehernya juga melambangkan kekuatan penghancurnya.

Pada purana yang lain dijelaskan juga bahwa ular tersebut memiliki fungsi untuk mencegah racun yang diminum ketika para dewa dan asura memperebutkan tirtha amertha masuk pada bagian tubuh dewa Siwa.

Tasbih juga menggambarkan sifatnya yang anadi ananta. Yang mana artinya tidak berawal dan tidak berakhir. Siwa juga memusnahkan  segalanya dengan mebawa Trisula. Trisula adalah senjata yang utama Siwa. Siwa  juga digambarkan memegang Trisula pada tangan belakang.

Secara visual, Dewa siwa digambarkan memiliki empat tangan. Yang mana, empat tangan tersebut, masing-masing memegang trisula, cemara, tasbih, serta memegang kendi.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *